Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Wajah Tanpa Senyum

Foto-dua-sahabat-memandang-pantai
Berikan padaku kuas itu
Akan kulukis senyum di wajahmu
Aku tak lagi memiliki kuas itu
Ia telah patah. Terburai. Hancur.
Tiada lagi yang tersisa
Jangan bersedih
Aku akan melukisimu
Dengan jari - jemariku

Weh Island, 16 Februari 2012
Selalu ada asa
Share:

Rumah Bagi Jiwa

Setiap kita, memiliki tempat yang kita sebut rumah
Yang walau kemanapun kaki melangkah
Sejauh apapun jiwa berkelana
Akan kembali jua ke asalnya
Rumah bagi raga
Mungkin sekedar rumah biasa
Hanya ada kursi, meja, ranjang dan almari tua
Setia menemani sepanjang usia
Rumah bagi jiwa
Tak selalu ada wujudnya
Tapi selalu indah di dalam jiwa

January 8, 2016. 
Mengumpulkan Yang Terserak
Share:

Bakwan Spesial

bakwan-spesial
"Ada bakwan jagung tuh", suara kakak, ngga lama saya menghempaskan tubuh sesampainya dari kantor siang tadi.

Saya ngga menjawab, hanya menatap mengiyakan. Letih masih terasa menggayuti raga.

Si kakak melanjutkan merem meleknya, keasikan diurai rambut oleh kakak yang lebih tua, berbekal pinset di tangan mencari uban. Ritual rutin mereka yang dilakukan secara bergantian.

Saya pun lanjut leyeh-leyeh di dekat mereka, bermain-main dengan gawai di tangan, ketika sesuatu itu datang.

"Eeee?? Bau apa niii??!" hidung menyerengit dan mendengus-mendengus sekaligus, saya menatap mereka waspada.
"Pete?!"

"Jengkol", si kakak  mengkonfirmasi. Terkekeh kompakan dengan kakak yang lebih tua.

Duh. Tetiba keringat segede jagung tak kasat mata bertetesan dalam bayangan.

"Bau (masakan) nya sih enak, tapi efek itunya yang bahaya" keluh saya lemah. Terbayang akan horornya "harum" kamar mandi kami nanti. Lagi-lagi dua orang ini terkekeh.

"Ngga terlalu bau kok. Rebusnya pake bubuk teh ituu"
Terserahlah. Mau bubuk teh atau pokok tehnya sekalian, seperti biasa saya mana bisa apa-apa kalau duo ini mulai beraksi.

Bosan dengan gadget, saya pun ke dapur. Membuka lemari makan, mendapati secambung bakwan menatap dengan rona menggoda. Tidak memperhatikan ocehan kakak  yang tak begitu jelas di ruang depan, saya comot satu bakwan. Sengaja memilih yang gepeng dan agak gosong. Gigit sepotong. Wiih, enak nih. Saya ambil sepotong lagi yang gepeng. Kembali ke depan sambil menikmati bakwan yang lezat, lembut dan garing sekaligus.

Baru mau bilang bakwannya enak, eeee...

"Itu ada yang campur jengkol bakwannya. Yang ngga ada jengkol yang bulet" santai si kakak jelasin, masih tetep merem melek.

Saya kontan melotot, sempat terpana sesaat sebelum akhirnya melepehkan kunyahan ke tangan kiri, menatap ngga percaya bakwan yang ngga berbentuk lagi. Sementara dua bakwan di tangan kanan -satu utuh dan satu coel bekas gigitan, mirip logo merk gadget terkenal. Saya perhatikan, cium sebentar. Kok ngga bau? Mana jengkolnya?

"Itu dia jengkolnya," kakak menunjuk potongan kecil yang nampak spesial di antara jagung dan yang lainnya.

"Enak kan?" si kakak terkekeh lagi, ditimpali kakak yang lebih tua.

Iihhhh.. langsung saya pindahkan itu bakwan ke tangan si kakak.

Enak memang, saya akui. Ada lemak-lemaknya. Tapi baunya itu lhoo. Saya hah-hahkan nafas ke telapak tangan. Amboiii!! "Harumnyaaa" !!! Lepehan tadi pun segera saya buang ke halaman. Ngga sudiii!

"Biasa heey bakwan pake jengkol. Kami aja tadi abis makan satu mangkok" dengan sisa kekehan si kakak bangga beri tahu.

Sementara saya rela ngga rela. Enak siih tapi bau. Bau siih tapi enak. 😅😅😅

Ah sudahlah. Saya kembali ke belakang mengambil dua potong yang bulat untuk dimakan. "Ngga kalah enak, "dalam hati menghibur diri.

Dan duo ajaib itu terus terkekeh-kekeh karena berhasil ngerjain saya.

Weh Island, 13.03.2020

Tulisan ini juga saya posting di facebook personal saya di sini
Share:

Popular of The Week

Kelas 30 Hari Optimasi Whatsapp & Facebook