Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Penipu di Siang Bolong

Lagi enak - enak tidur siang, eh ada telpon entah dari siapa. Karena mikir positif, "Mungkin dari prospek nih", saya segera mengangkatnya. Rupanya bapak-bapak. Ngakunya sih dari Sido Muncul. Bilang kalau saya dapat hadiah uang tunai 8,5 juta plus pulsa 1 juta. Hadeeeh, Bapaaak! Kalau mau nipu mah jangan ke saya.

Yang sudah - sudah, kalau menerima telepon serupa saya pasti semangat 45. Semangat untuk ngerjai, hehe. Pura-pura bisa dibodohi, seneng bisa dapat hadiah buanyak dsb dsb. Dan pada akhirnya, setelah pulsa di penelpon terkuras, saya dengan santai akan bilang,"Duh, Pak, Bu, maaf, saya belum perlu" Intinya yang bikin si penipu gondok abis dah hehe

Tapi kali ini saya lagi ngantuk. Dalam keadaan menahan kantuk itu, malas-malasan saya menjawab telpon si Bapak yang kalau saja suaranya dimanfaatkan untuk kebaikan, pasti mantap tuh. Sesekali ia akan berhenti dan bilang,"Halo, Bu?", memastikan saya mendengarkan. Saya yang memang ngantuk plus sebal cuma mengiya-iyakan dengan malas. Maksudnya sih biar si Bapak nyadar dan ngga melanjutkan aksinya. Tapi, teteeup. 

Sampai akhirnya, keluar jurus pamungkas si Bapak. Apalagi kalau bukan menanyakan nomor rekening. Aha, ini dia. Dengan gaya polos saya bilang,"Aduh, Pak. Saya ngga punya rekening!" Belum sempat saya menyambung, tak, sambungan langsung terputus. Hahaha, antara puas dan sebal karena tidur siang yang terganggu.

Kejadian serupa di atas tentu bukan saya sendiri yang pernah bahkan sering mengalaminya. Dan ngga sedikit pula yang nyaris dan pernah tertipu. Kehidupan yang begitu sulitkah? Atau keserakahan manusiakah? Yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segala sesuatunya secara instan? 

Setelah menerima telpon tersebut, terlintas di benak untuk mengirim sms. Karena sehari sebelumnya, seorang teman di jaringan bisnis saya menerima sms dengan modus serupa. Dan saya mencandainya dengan kalimat,"Kenapa ngga diprospek aja?" Sekarang saya yang berpikir,"Kenapa ngga coba saya prospek aja ya Bapak penelpon tadi?" hehe. Tapiiii, akhirnya sisi hati yang lain membatalkannya. 

Teman-teman sendiri gimana? Pernahkah mengalami kejadian serupa? Saya sangat senang bila teman semua mau berbagi di sini. 

*true story on Dec 4, 2012


Share:

November di Desember

Menikmati hujan Desember yang membatalkan rencana indah siang tadi
Derainya membawa ke suatu masa di November, setahun yang lalu
Ada rasa tak terkatakan, kata tak terucapkan dan jejaknya masih tertancap dalam, hingga kini
November tlah memberi kenangan dan pembelajaran
Air mata yang bersembunyi di balik hujan
Tawa tawa teriakan mengusir kepenatan, kejenuhan
Luka berganti tawa, tawa bersemu duka
Tak mampu hapuskan rasa yang dirasa
November tahun ini satu dua tiga rintik kurasakan
Entah mengapa deras tangisnya kurindukan

November bermula di Desember, 1 Desember 2012
Share:

Popular Posts

Cari Kerja Online ?