Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Arai dan Lintang


puisi - puisi, andrea hirata, laskar pelangi
kolom-biografi.blogspot.com
Arai dan Lintang, mimpi - mimpi masa depan
dua pribadi impian perempuan
Mencintai kalian bukan sebab wajah rupawan
Tapi lebih pada pribadi dan kecerdasan

Arai dan Lintang, jatuh cinta pada pandangan baca pertama
Terkesima gambaran seorang Andrea
Antara fiksi bercampur nyata

Bila ada lelaki sempurna, anugerah Sang Pencipta bagi semesta
Dialah perpaduan Arai dan Lintang

Sebuah mimpi yang tertunda
Januari 30-31, 2012

Share:

Ivedich, Ketika Takdir Bicara

takdir, puisi takdir
Takdir, kaukah itu?
Berdiri di sudut kamarku lalu menghilang di balik pintu
Aku tak tahu sejak kapan kau ada di situ
Tersenyum padaku, berbicara kepadaku

Ratusan malam kita lalui bersama
Tertawa, berbagi cerita. Dengan cara yang tak biasa

Share:

Ivedich, Akhir Sebuah Cerita

Aku telah tahu kemana sungai akan bermuara
Mana mungkin aku membiaskan arah


Daratan mungkin telah membelah lintasan
Hingga jarak tempuh semakin panjang
Hingga entah berapa persinggahan

Namun muara adalah niscaya!

Tiga detik dari 12, 19 Januari 2012
Share:

Ivedich, Sebuah Cerita di Suatu Masa

Ivedich, Sebuah Cerita di Suatu Masa

Ternyata selama ini kamu memperhatikanku, ya?
Merasa bertanggung jawab atas diriku?
Terima kasih.
Seperti aku yang terus berjalan meski terjatuh berulangkali, 

berjalanlah di jalan yang semestinya engkau tempuh.
Inilah takdir yang telah digariskan untuk kita
Tiada pilihan selain ikhlas menerimanya

Mencintaimu, adalah anugerah sekaligus pembelajaran dalam hidupku

The Island, di suatu petang 18 Januari 2012
Share:

Senja 2

fotografi dan puisi, puisi senja, senja
Senja yang lelah
Dan akupun rebah

Senja 16 Januari 2012
photo: private collection
Share:

Anggrek Oh Anggrek

anggrek, fotografi, bunga
Hening pagi ini dipecahkan oleh suara kakakku yang marah bercampur sedih dan kecewa. Apa pasal? Anggrek kesayangannya hilang! Oalah.... siapa ya yang tega-teganya melakukannya?

Ini bukan kali pertama kami kehilangan tanaman kesayangan. Dulu, almarhum abangku pernah kehilangan bonsai kelingkitnya. Bonsai yang dibuatnya sendiri dan dirawatnya sepenuh
hati,lenyap digondol maling yang mencintai keindahan tapi ngga mau susah. Ngga butuh waktu begitu lama, langsung diketahui keberadaan bonsai itu. Saya ngga begitu ingat kejadiannya waktu itu. 
Share:

Sanggup



foto tangan bergandengan
Foto: Huffingtonpost.com
Pernahkah kamu lihat luka yang selama ini aku sembunyikan di balik bajuku? Kamu tahu? Sudah sejak lama aku menahan perih luka ini. Aku tak mau memberitahukan ini kepada siapa pun. Hanya kamu. Ya, hanya kamu. Kamulah satu-satunya yang aku beritahukan. Apakah kamu bisa menjaga rahasiaku?

Tak hanya menjaga rahasia, bisakah kamu memahamiku?

Memahami luka menahun yang kutahan ini? Luka yang membuatku menjadi seperti ini. Yang selalu saja ingin kuceritakan tapi selalu pula kutahan karena khawatir akan penolakan.

Kadang kupikir, rahasia biarlah tetap menjadi rahasia, luka yang kupunya biarlah kusimpan saja sendiri, tapi rasanya itu tidak mudah lagi bagiku sekarang. Ketika kesulitan dan masalah terus-menerus berdatangan menghimpitku. Aku terdesak. Sesak di dada. Aku butuh pertolongan. Aku butuh dukungan. Dan aku butuh kamu untuk menggenapiku.

Sebab sekarang aku tahu. Kaulah orang yang tepat untuk kubagi rahasiaku. Kaulah yang kuinginkan untuk kubagi rahasiaku. Setelah sekian masa kusimpan di sudut kalbu.

Sudah tiba masanya aku mengakhiri rahasia ini.

“Mas, ada yang ingin kuberitahukan padamu?”

Ada jeda yang terasa begitu lebar di antara kita sekarang. “Ada apa?”

Arrgh, entah kenapa masih terasa berat kuungkapkan. Selalu saja aku harus berjuang keras setiap kali aku berusaha mengungkapkan sesuatu padamu.

“Ngg.. menurutmu..” tak dapat kusembunyikan nafasku. “Bisakah dipahami orang yang terbelenggu oleh luka masa lalunya?”

“Ada apa? Apa yang kamu maksudkan? Mas tidak mengerti.”

“Pernahkah mas merasa terbelenggu oleh kenangan di masa lalu? Dan mas merasa tidak bisa berlaku sesuka yang mas inginkan, karena mas tahu, ada beberapa hal di masa lalu yang menahan mas untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu?”

“Mas masih belum mengerti. Coba beritahukan apa yang ingin kamu sampaikan. Mas tidak akan marah. Mas janji.”

Lagi – lagi aku harus menghela nafas. Menariknya lagi.

“Seandainya.. mas memiliki kenangan yang menyakitkan, tapi tidak bisa mas lupakan sampai kapanpun. Meskipun berkali – kali mencobanya,” kuhela nafas lagi “kenangan itu membuat mas selalu berpikir setiap kali akan melakukan sesuatu, atau mengambil suatu keputusan”

Dan sekali lagi, kamu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatku berbicara seperti itu.

“Ada apa sayang? Adakah luka dari masa lalumu yang masih saja terasa sakit hingga sekarang?”

Aku menggangguk. Sepertinya kini kamu mulai mengerti.

Hufff… kali ini nafasku menghembus lebih keras dari yang tadi.

“Sangat sakit, mas. Hingga sering aku merasa sesak hanya dengan mengingatnya. Aku tak ingin mengingatnya. Tapi ingatan itu datang begitu saja. Bisakah kamu pahami itu, mas? Bisakah kamu menerima diriku yang seperti itu? Kenangan itu yang sering buatku ragu untuk membuka hatiku seutuhnya. Percaya seutuhnya”

Aku merasa takut tiba – tiba. Tapi, bagaimana pun aku sudah mengatakannya.

Kamu hanya tersenyum menanggapiku berbicara seperti itu. Apakah aku sudah salah ketika membicarakan ini kepadamu? Apakah aku sudah mengecewakanmu?

Tak pernah kusangka akan seperti ini jawaban yang kuterima darimu. Perlahan namun pasti, air mata turun dari kedua mataku.

“Mas pikir kamu akan berbicara hal lain.” Kamu tertawa pelan melihatku seperti ini. Aku kini meradang menerka-nerka lakumu. “Sudahlah, sayang. Semua yang sudah terjadi, biarlah menjadi kenangan yang tak perlu kamu usik-usik lagi.”

Aku tertegun. Menatap kedua bola matamu yang kini terasa sangat teduh.

“Apa yang sudah menjadi kenangan, biarlah ia menjadi kenangan. Mas tidak ingin membuka dan mengingat-ingat masa lalu dan malah membenamkanmu dalam keraguan yang berkepanjangan. Mas tidak mau. Jadi…”

Aku menunggumu. Apa yang ingin kamu sampaikan mas?

“Jadi, sudahlah, pegang tanganku erat, genggam dengan tulus. Jika kamu memang masih membutuhkan waktu untuk sembuh dari rasa sakitmu. Mas akan menunggu dengan sabar. Mas akan tetap menemanimu sampai saat itu tiba.”

Apakah aku sedang bermimpi? Mana mungkin ada seorang lelaki yang mau disakiti terus-menerus? Apakah aku terlampau berhati batu membiarkan ia yang mencintaiku sakit begitu saja sembari menunggu lukaku sembuh?

“Kamu jangan bercanda, Mas. Kamu tidak akan sanggup.”

“Jika memang mas nanti jatuh di persimpangan jalan. Kuatkan mas. Bukankah memang seharusnya begitu? Cinta itu menguatkan. Dan begitu juga mas sekarang, di saat kamu tengah dalam keraguan, mas ingin menguatkanmu. Maukah kamu mengizinkan mas melakukan itu?

Mataku berkedip sejenak. Menatap mata teduhmu. Tanpa ragu aku mengangguk

13 Januari 2012
Tulisan duet with Teguh Puja







Share:

Politisi dan Puisi

politik, politisi, gedung DPR
Seumur - umur, saya ngga pernah tertarik dengan yang namanya politik. Dunia politik merupakan sesuatu yang asing buat saya. Sesuatu yang asing dari negeri yang asing. Padahal almarhum Bapak saya seorang politisi. Tapi, ngga ada satupun dari kami anak - anaknya yang mewarisi bakat itu.

Nah, kalau ternyata sekarang  saya
Share:

Hujan Januari

Foto-pohon-dan-jalanan-diguyur-hujan
Pagiku adalah hujan yang setia dengan janjinya pada musim
Mencumbui tetumbuhan, mengetukkan irama pada tanah dan genting rumah

Lelap semalam, ternyata untuk indah pagi ini
Meskipun mentari enggan beranjak dari mimpi

Rainy Monday, Januari 9, 2012



Share:

Popular Posts

Cari Kerja Online ?