Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Setelah Badai

Ilustrasi from Google


Pagi ini aku terjaga. Bergegas ke luar rumah dan menyambut dunia. Aku lihat alam begitu putih kelabu, begitu suci. Diam. Hening. Angin mendadak mati, namun udara begitu sejuk kurasakan. Damai. 

Lalu kurasakan kehadiran seseorang. 

Di undakan di belakangku, seorang lelaki tersenyum dengan matanya padaku. Aku tidak tahu siapa dia, tidak pernah bertemu sebelumnya. Tapi aku tahu namanya. Dan sangat tahu ini adalah pemandangan yang paling dikaguminya, seolah telah mengenalnya lama. 

Aku berkata padanya dengan pikiran dan isyarat. 

"Lihat, Ari! Bukankah ini pemandangan alam yang paling engkau sukai? Sungguh aku pun mengaguminya!" 

Lagi-lagi ia tersenyum dengan matanya. 

Dihampirinya diriku, digenggamnya jemari tangan kananku. Aku menunduk, dan angin pun berdesir meniup hijab putihku, senada dengan bajunya. Lalu kami pun berjalan bersama. 

Someone in a dream, 30.09.2014
Share:

A To Z Serunya Kopdaran | Sahabat Pena dan Sahabat Online

Di day 5 LAAF Batch 15 beberapa hari kemarin, saya sempat cerita tentang kenangan kopdar alias kopi darat pertama dengan teman facebook. Kenangan yang begitu membekas meski telah berlalu sekian tahun, hingga saya baru tersadar kalau sudah pernah menulis hal yang sama beberapa bulan sebelumnya, masih di kelas optimasi facebook alias LAAF (Learn All About Facebook) yang sudah saya ikuti selama 5 batch ini.

Kalau diingat-ingat, ada beberapa kali kenangan kopdar yang ngga akan pernah saya lupakan.

Pertama kopdar dengan sahabat pena pertengahan Februari 97 (ampuuun, oldis bangeeet yaak). Rencana sebelah pihak aja ini sebenarnya, karena yang dituju belum tahu. Kebetulan waktu itu pas lagi main ke Banda Aceh ama sohib kentalku Ariyani. Pikir-pikir, kenapa ngga sekalian kopdar ya, kan? Dulu sih belum ada istilah kopdar, kita bilangnya ketemuan haha. Oiya, nama sahabat penaku ini Vivi.

Muter-muter kami bertiga bersama sepupunya mencari alamat sahabat penaku ini. Mana kita diturunin becak masih jauh dari alamat lagi. Alhasil jalan kakilah kami sepanjang jalan kenangan. Santuy aja siih, mengingat saat itu jalan kaki adalah hal yang biasa untuk anak Sabang yang betisnya udah serupa betis abang becak kayak kami ini. Hahaha. Alias kuat jalan, gaes. 

Singkat cerita kami sampai di sebuah kedai, lalu mampir dan menanyakan alamat dimaksud. Di saat yang bersamaan, kami melihat papan nama jalan di ujung lorong. Setelah mengucapkan terima kasih, semangat 45 lah kami masuk ke lorong itu. Mengetuk pintu rumah nomor 1. Dan ternyataaaa....

 

Kata yang punya rumah, rumah Vivi sahabatku yang di belakang kedai tadi. Ampuuun wkwkwk

 Kembalilah kami ke kedai tadi.

"Lho, kok balik?" tanya bapak yang tadi kami tanyain.

Meski ragu, saya bertanya juga,

"Rumah Vivi Rahma Eka Herawaty di mana ya, Pak?"

"Ya di sini!" belum lagi menarik nafas lega,

"Tapi Vivi-nya ngga ada. Belom sampe di rumah" lanjut si bapak yang ternyata bapak temanku itu.

Rupanya Vivi lagi dalam perjalanan dari Meulaboh ke Banda Aceh.

Yaaa.... kecewa kan penonton. Apalagi kita kehausan banget waktu itu wkwkwk.

Akhirnya kita pulang dengan kerongkongan kering. Naseeeeb.

 

Syukurlah di minggu ke empat Februari kopdar-an ama Vivi sukses. Kali ini ditemani oleh Bang Ikhsan. Kami ngobrol sambil haha hihi nyeritain apa aja. 

"Tengkyu ya, Bang, udah rela jadi obat nyamuk kami waktu itu. Hehe" 

Waktu itu saya ke Banda lagi karena ikut Cerdas Cermat Kadarkum mewakili Sabang ke Provinsi Aceh. Kelar dari sana langsung mampir dan nginap di rumah Bunda, ibunya Bang Ikhsan yang sudah kuanggap seperti abang sendiri. Abang yang sadis, karena pernah ngetok kepalaku pake centong dulu. Belum lagi suka nyulik kedua abangku buat main.Makanya saya balas dendam jadiin dia obat nyamuk. Weeek.

 

Kopdar berikutnya ama sahabat pena juga. Kak Lilid namanya. Beliau ini kakak sepupu Yuni teman sekelasku.  Kita ketemuannya di rumahku di Sabang. Ingat banget waktu itu, kita ngobrolnya di depan lemari bukuku di ruang tamuku yang mungil.

Intinya, dari pertemuan inilah kak Lilid seneng berteman denganku (acieee) dan kita lanjut dengan berkirim surat. Mudah-mudahan Iza ngga salah ingat ya, Kak Lilid #smile

 

Ada lagi kopdar ngga terduga yang kocak. Yang datang itu temen pena juga. Doinya mondok di pesantren di Seulimum, Aceh Besar. Awal kita sahpenan  karena kenal dari buletin sahabat pena. Pada masa itu saya ikut nerbitin buletin serupa yang edar hingga ke mancanegara. Oya, BUMI nama buletinnya.

Sesama publisher Aceh, saling bertukaran terbitan dong ya, kami. Kenal lah dengan teman saya ini, Zulfikar namanya. Awal ngirim surat dia ngaku-ngaku anak perempuan. Makanya saya sempat shock saat menerima suratnya yang ke sekian dan tetiba fotonya yang membuka rahasia terjatuh dari amplop wkwkwkwk. Masih ingat banget waktu itu kejadiannya di ruang tamu di rumah yang baru.

Pas datang ke Sabang kemudian, Zul ngga sendiri. Tapi bareng dua temannya, Amir dan Muhalba. Waktu itu pas ada acara kunjungan tokoh agama atau apa gitu di Sabang, dan mereka ikut sebagai partisipan. Lupa saya.

Yang kocak dari pertemuan kami ini, Zul yang sahabat pena saya, tapi yang langsung akrab ngobrol malah Muhalba temennya. Ngobrolnya kayak yang udah kenal lama pula. Seruuu. Cuma Amir yang agak pendiam. Kata kedua kawannya, "Dia alim, ngga kayak kami" wkwkwk. Bocor alus.

Duo ini sempet pepotoan ama kedua kakak saya di depan rumah kami. Saya ngga mau ikut hahaha

Zul (berdiri), Muhalba (duduk), peu haba?


Kopdar di masa-masa bekerja lain pula ceritanya. Saya pernah ketemuan dengan teman FB sekaligus downline di Oriflame dulu. Ngga pake rencana. Dianya pas lagi tugas dinas ke kota saya. Ditelpon di tengah jam kerja (yang untungnya ngga lagi crowded) saya langsung meluncur ke tempat janjian. Tau ngga di mana? Di kantor pos! hahaha. Itu adalah pertemuan tersingkat saya sepanjang sejarah. Kami hanya sempat ngobrol beberapa menit. Alhamdulillaah ada kenangan yang tersimpan tentang itu.

Ini foto saya bersama Novita yang diambil 11 Juli 2013 silam. Masih kuyus banget kan?

 

Saya (kiri) Novita (kanan)

Pernah juga kedatangan teman sesama publisher. Kedatangannya yang pertama, kita ngga ketemu karena saya baru saja berangkat ke Medan waktu itu. Kedatangan yang kedua dia membawa serta istrinya, pas bulan madu. Sempat tukaran nomor telepon waktu itu. Sayangnya saya kok lupa namanya ya? Maafkan saya, kawan.

 

Ada juga kopdaran yang diam-diaman. Dia ini sahabat pena saya juga. Datang ke rumah saya bareng temennya tapi ngga berani ngomong. Nunduuk teruuss. Kecanggungan itu makin rikuh karena disaksikan almarhumah ibu waktu itu. 

Saat pamit dia baru ngasih surat yang ternyata isinya kalau dianya ada rasa. Kan bersenandung saya jadinya. 

"Sahabat pena aku cinta padamuuuu" 

Saya ngga begitu ingat, sebelum atau sesudah itu saya ketemu (lagi) si sahabat pena yang punya rasa ini di tempat kerja. Agak ngga yakin awalnya  apa iya itu dia. 

"Apakah itu dia? Apakah itu cinta?"

Nah kaan, jadi nyanyi lagi. 

Sampai akhirnya saya yakin itu dia, dan saya sapa. 

 

Maaf ya, Z. Saya ngga begitu ingat tentang ini.

 

Yang paling heboh adalah saat kedatangan teman online dari Russia. Catatan mentah atau versi blognya pernah saya tuliskan di sini. Empat hari setelahnya saya bikin versi matengnya wkwkwk. Awalnya posting di catatan Facebook personal. Tapi di 2016 saya posting ulang di Facebook Fanpage saya Lizanovia M. Hadi

Syukurlah karena ngga lama setelah itu facebook notes ngga bisa  disearch dan akses lagi, kan?  Kecuali kalau kita sudah pernah save link catatan-nya.

Masih ada beberapa kopdaran lainnya.

 

Saat ini, kalau ditanya pengen kopdaran dengan siapa, ada beberapa nama yang tersimpan dalam benak.

Pertama, pengen banget kopdaran dengan cintaku mba Sugii alias Erna Sugiarti alias mba Deziiing di Jakarta. Selama ini cuma video call-an aja kita ya, mba? Ingin ku di saatnya nanti ketika pandemi ini pergi, bisa datang ke ibukota  menemui dirimu dan emak. Tolong jangan dezing aku yaa, kalau kita berjumpa kelak. Suguhi aja Ciomy  Jando. Wkwkwk. Maunyaaa..

Yang kedua, pengeen banget bisa kopdaran dengan dua sahabat penaku yang kini jadi sahabat FB. Yang satu Kang Johan di Jogja, satunya lagi sis Rahma di Raha, Sulawesi Tenggara. Cita-cita kita dulu bisa kopdaran berempat dengan Kak Nun ya, kan? Tapi ternyata Allah telah memanggilnya lebih dulu. Allahumma firlaha warhamha...

Kedua sahabat pena ini sudah terhubung sejak zaman saya sekolah dan mereka belum menikah. Surat-surat kalian masih saya simpan lho, Saudaraku.

Kalau mba  Sugi, kenal ama dia ini pas di kelas BOW (Bimbingan Optimasi Whatsapp) dulu. Dia jadi PJ alias Penanggung Jawab grup yang hobinya dezingin peserta yang ngga setor tugas. Wkwkwk. Tapi itu casing-nya doang, aslinya dia baik kok, terutama kalo pas ngirim Ciomy wkwkwk #deziiing


Well, begitulah cerita kopdaranku. Kalo ceritamu gimana, Kawans?



Share:

Tsunami Aceh dan Kepingan Puzzle

3 Mei 2017

"Ini mesti dioperasi. Besok sudah bisa masuk yaa," aku sempat tertegun sesaat dengan ucapan dokter di depanku, tak lama setelah pemeriksaan di poli bedah.

Baiklah... Jika memang itu yang terbaik.
.............................

2 November 2019

Aku dan Fadia asik tertawa berbagi cerita ketika Ariyani- sohibku sejak SMP- menghampiri meja kami di de Sagoe Kupi pagi itu. Dia ngga sendiri, tapi bersama seorang cowok asing. Heyyy! What is this about? Ternyata dia seorang youtuber, maaaan. Ingin mewawancarai kami tentang syariat Islam khususnya hijab di Aceh.

Wow wow wow! Pembahasan yang sensitif ini maah.
..........................

6 Februari 2020

Ini kali ke sekian Shawn mengirim DM di Instagram. Kali ini disertai link Youtube channelnya dengan tajuk yang bikin aku tertegun

Mr. Dokter, yang dulu sempat bikin aku nangis menahan suara saat pemeriksaan luka bekas operasi 2008 silam, jadi tokoh utama Shawn kali ini.


Ya. Aku tahu, kalau Moha-begitu Shawn memanggil Mr. Dokter- adalah teman Shawn saat sesi wawancara dulu. Tapi setelah menonton video berdurasi 41 menit lebih itu, membuatku kembali tercenung dan lalu meninggalkan jejak di kolom komentar;

Thank you for the video. This remind me, warn me that every of us have the sad story. So I am not the only one who feel grieve. Btw, he was the one who saved me on the surgery a few years ago. Seeing this video show me the other side of every human being. Very sad but inspiring
 
Setiap kita, pastilah memiliki kisah sedih yang mungkin tidak pernah kita bagi kecuali pada orang-orang terdekat. Bahkan bisa jadi kisah itu hanya kita simpan sendiri.
 
Ada banyak alasan sebagian orang menyimpan kisah untuknya sendiri dan menutupnya rapat-rapat dengan senyuman. Hingga sering menipu pandangan lalu dianggap sebagai orang paling berbahagia di dunia. Benarkah? Semoga...
 
Namun di sisi lain, dengan berbagi kisah baik sedih maupun senang tentu memiliki nilai sendiri yang bisa menginspirasi orang lain untuk merenung dan mengambil pelajaran darinya. Cerita indah akan menularkan energi bahagia, sementara kisah nestapa menyadarkan kita bahwa kita tak sendiri dan ada orang lain yang boleh jadi lebih sengsara di semesta raya ini.

Meski memang, terkadang dunia menjadi kecil ketika kita bertemu orang-orang yang bagaikan kepingan puzzle melengkapi hidup kita, Seperti pertemuan saya dengan Shawn yang terkoneksi dengan Mr. Dokter

Hari ini, 16 tahun sudah tragedi Tsunami Aceh. Teriring doa untuk para syuhada. 
 
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاكْرِمْ نُزُلَهُمْ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُمْ وَاغْسِلْهُمْ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِمْ مِنَ الْخَطَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُمْ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِمْ وَاهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِمْ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِمْ وَقِّهِمْ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ




Share:

Take It Away!

wajah-takut-scary
"I catched the snake," tersenyum ia menunjukkan selingkaran mahluk di tangan kirinya, tidak besar tapi juga tidak bisa dibilang kecil.

"Yaiikkk!," refleks aku mundur menjauh. Jijik dan ngeri luar biasa. Gunting yang kupegang hampir terlepas dari genggaman.

Lelaki ini menunjukkan ular serupa kucing mempersembahkan tikus hasil tangkapan kepada tuannya, dengan wajah bangga dan menghamba.

"Take it awaayy!"seruku tertahan memejamkan mata dan memalingkan wajah. Ular adalah binatang yang paling tak ingin kulihat di dunia ini.

"Okay dear,"ada rasa bersalah dalam suaranya. Kudengar suara kerikil terinjak dan langkah yang bergegas menjauh. Aku menghela nafas, menenangkan jantung yang berdegup kencang. Kutinggalkan rumpun mawar yang tengah kupangkas tadi. Duduk menghempas di bangku kebun dengan tangan yang masih bersarung dan memegang gunting.

Seumur hidup, sudah beberapa kali aku terpaksa melihat ular. Tapi tidak pernah aku sepanik tadi. Maksudku, sepanik apapun aku tetap bisa mengendalikan diri. Diam sambil terus melafadhkan kalimat-kalimat-NYA. Dan baru akan berteriak saat mahluk itu telah pergi.

Kuletakkan gunting di pangkuan, kubuka sarung tangan bercocok tanam. Setengah membungkuk kuselipkan keduanya ke dalam laci penyimpanan di bawah bangku setengah beton setengah papan ini. Tiba-tiba kerongkonganku terasa begitu kering. Baiklah, aku akan mengambil air di dapur.

Belum sempurna kutegakkan tubuh, kudengar kerikil yang kembali terinjak. Aku menoleh dan mendapatinya tengah melintasi halaman ke arahku, kali ini dengan tangan kosong. Kusambut ia dengan senyum lega.

"I am sorry, dear. I didn't mean..."tatapannya membungkusku dengan permintaan maaf yang dalam.
Kedua tangannya menggantung di udara, seakan ingin tapi ragu untuk menyentuh kedua lenganku.

"Where is it?" Tubuhnya yang menjulang memaksaku mendongakkan kepala untuk membisikkan rasa ingin tahuku yang tertahan.

"What?," agak geli ia memandangku kini.

"The snake?," Aku kembali bergidik, tapi mengangguk pendek dan cepat.

"I let her go,"lanjutnya tetap tersenyum
"Listen. I really don't know that you are afraid of snake. I have seen you as a brave woman. I never thought...."

"Yeaah,"erangku. "Superwoman is still a human,"gayaku pasti sudah seperti pemeran wanita di DC Comics hingga ia kembali tertawa geli melihatku.

"Okay, my superwoman human,"towelnya di hidungku yang mungil. "Sit down and wait here. I will bring you a glass of water. You must be thirsty after that fight with a snake monster,"kerlingnya sambil terkekeh. Beranjak menuju pintu dapur kami, tak begitu jauh dari bangku yang kembali kududuki.

Aku duduk sambil tersenyum memandangi punggungnya. Lelaki half latin-ku, suami yang kunikahi tiga bulan lalu.

Bersambung...

Sabang, 15.05.2020

Share:

Keajaiban Rasa

Mengetahui dirimu disayangi oleh orang
Yang tanpa sadar juga kau sayangi
Itu seperti duduk di pasir pantai
Menikmati pemandangan dan debur ombak
Lalu tiba-tiba kau rasakan
Lidah ombak menjilati kakimu
Mengejutkan
Namun menyejukkan

Anoi Itam Beach, 16.07.2017
Mengumpulkan Yang Terserak
Share:

Filosofi Staples

Tahu staples?
Di tempat saya biasa disebut anak penjilid atau anak hecter. Kalau ada anaknya, tentu ada ibunya. Ibunya ya si Hecter ini alias stapler. Hehehe.

Teman-teman tentu sudah pada tahu dong fungsi si staples ini. Yap! Ia berjasa menyatukan dokumen-dokumen penting kita, makalah, catatan, faktur atau apalah supaya rapi dan ngga tercecer. Staples juga yang membantu ibu-ibu penjual nasi atau jajanan untuk membungkus dagangannya. Cekrek! Cekrek!  :) Meski dua yang terakhir ini ngga recommended yaa, mengingat resikonya yang ngga kecil.

Kalau saya sendiri dulu biasa memakai staples ini buat cekrek-in foto-foto ke formulir di tempat kerja yang lama, karena kalau pakai lem, tumpukan dokumennya gembung sebelah, jadi ngga enak dan ngga rapi dilihatnya. 

Whatever, pokoknya banyak lah kegunaan si staples ini.

Sepanjang pengetahuan saya, staples ini ada 3 macam ukuran. Yang paling kecil dan sering kita lihat dan pakai adalah yang nomor 10. Trus ada yang ukuran sedang (nomor 1) dan yang gede nomor 3. Koreksi saya kalau salah yaa 😊

Staples ini sifatnya ngga jauh beda sama jarum. Beda tipis, 11 12 lah. Keduanya sama-sama melukai dulu sebelum menyatukan apa-apa yang sebelumnya terpisah. Sama seperti teman yang baik, kata-katanya mungkin terkadang menusuk, tapi tujuannya untuk kebaikan kita.

Staples juga sejago dan "sepedas" cabe rawit. Wujud boleh kecil tapi "sensasi" yang diberikan sungguh besar. Coba aja pas buka bungkusan nasi yang distaples ngga hati-hati, trus staplesnya terjatuh sembunyi di antara lauk. Pasti kalang kabut, kaan? Pernah ada teman yang cerita, dianya ngga sengaja ketelan staples pas makan nasi bungkus. Ngeriii. 

Pengalaman pribadi saya di anak sendiri, yang ngga sengaja menginjak staples di sekolahannya. Pas jadwal kunjungan seminggu sekali dulu sebelum pandemi (anak saya mondok), dia ngga ngasih tahu karena menganggap sepele. Alhasil seminggu kemudian saya melarikannya ke IGD setelah dapat telpon darurat. Alhamdulillah segera diobati dan ngga terjadi apa-apa.

Staples menjadi barang yang berguna  saat kita tau memanfaatkannya dengan benar. Namun dia berubah berbahaya saat kita menyepelekan.

Sama halnya saat kau meremehkan dan menyepelekan orang lain hanya karena penampilannya. Lalu terkejut saat ternyata dia lebih dari yang kau kira.

Catatan lama yang hampir terabaikan
Share:

Popular of The Week

Kelas 30 Hari Optimasi Whatsapp & Facebook